Showing posts with label Destination. Show all posts
Showing posts with label Destination. Show all posts
Kelingking Beach (dok. anginfilms)


Feet on Sand


Broken Beach (dok. anginfilms)


Maksudnya Solo Trip bukan gue pergi sendirian ya. Maksudnya tak lain karena gue ga pake jasa tour sama sekali. Semua yang gue lakukan di Nusa Penida atas kehendak pribadi, minta tolong sama Mbah Gugel!

Anyway busway, perjalanan gue di Nusa Penida ga lama-lama banget; cuma 2 malam. Sebenarnya kurang banget, karena gue belom mengunjungi banyak tempat. Sedangkan trip gue di Bali itu 8 hari.

Oke! Nusa Penida itu secara administratif masih berada di wilayah Bali meski beda pulau. Jadi jangan heran kalo disana bakal banyak alamat yang mencantumkan kata "BALI" diakhirannya.

Gue bingung mau cerita dari mana, karena ini kali pertama gue menginjakkan kaki talas bogor ke Nusa Penida. Dan liburan ini udah gue rencanakan dari awal Agustus 2017. Gue perginya akhir Oktober 2017. Namanya juga low budget, jadi semuanya harus serba jauh-jauh hari. Eh bener dong, harga hotel yang gue booking ternyata naik pas menjelang hari H; dari 592k jadi 620k. Gue bisa menghemat 28k. Berapapun selisihnya, itu berharga untuk kami yang low budget tapi suka banyak gaya #gapenting #abaikan

Biasanya gue bakal review tempat-tempat yang gue kunjungin sekalian sama budgetnya. Tapi trip kali ini gue agak lost, jadi kalap banget make duit. Jadi paling gue bakal tulis budget real aja kayak biaya tiket pesawat PP, sewa hotel, sewa motor, sewa bule dan sewa-sewa lainnya. Untuk harga makanan di Nusa Penida masih terjangkau bagi para low budget kayak gue, apalagi untuk kalian yang memang mempersiapkan budget khusus kuliner.

Gue nginep di Green Palm Homestay. Hunian sederhana yang asri karena banyak tanaman di kompleknya. Dan disini juga banyak banget bule yang nginep. Si empunya homestay dan karyawannya sangat friendly dan nilai plusnya mareka mau gue susahin. HAHAHA
Homestay ini jaraknya dekat banget dengan Dermaga Sampalan, tempat ngetemnya Mola-Mola Express dari Sanur (atau sebaliknya). Jadi kalo ada yang mau nginep di homestay ini, silahkan nyebrang dari Sanur naik MOLA-MOLA EXPRESS. Jangan yang lain! Untuk harga sih standart, seharusnya 75k sekali jalan per orang. Tapi waktu itu gue sempet jadi korban calo dengan mematok harga 250k PP, udah gitu salah beli tiket kapalnya. Akhir cerita gue bersikukuh minta dituker dan gue berhasil berangkat dari Sanur pake Mola-Mola Express. TIPS: silahkan kalian beli sendiri tiketnya. Ya untung-untungan dikasih harga lokal, 75k atau harga turis 125k. Kayaknya untuk bule harganya beda lagi deh.

Butuh sekitar 30 menit untuk bisa sampai di Dermaga Sampalan Nusa Penida, dan bagi yang mabok laut 30 menit itu waktu yang lama. HEHEHE... Gue ga mabok laut, malah pules tidur sambil terombang ambing diatas kapal. Sesampainya di Dermaga Sampalan, gue nunggu salah satu karyawan homestay untuk jemput gue ke tempat tujuan. Service yang menguntungkan.

Dermaga Sampalan (dok. anginfilms)


Karena gue sampai di Nusa Penida kepagian, belom bisa check in, jadi gue nitip tas aja dan memulai perjalanan ke Angel's Billabong pakai motor sewaan sebesar 60k per hari tanpa bensin.

Selama di Nusa Penida tentu gue ga mengendarai sendiri motornya, gue turut pergi bersama Cepot jadi biar dia yang bawa motornya. Sebelum gue kesini, gue udah melakukan banyak observasi melalui banyak artikel tentang Nusa Penida, dan katanya akses jalan ke Angel's Billabong dan lainnya tuh rusak parah. Eh bener dong, rusak parah :'(

Jalanannya ada yang udah diaspal tapi kebanyakan masih berbatu tajam dan ga rata kayak dada. Jadi kudu ekstra hati-hati, atau nasibnya kayak bule yang gue dan Cepot temuin di jalan; jatoh terkapar dan kakinya lecet berdarah-darah.
Ini ga lebay ya. Memang terjadi. Dan wanita bule malang itu masih sempet bilang "I'm fine, I'm fine, It's okay" dengan semeringahnya ketika gue dan Cepot ngeliatin dia dengan penuh rasa iba. Berhubung bule itu ada yang temenin entah pacar atau temennya, setelah kita tolongin kita tinggalin untuk melanjutkan perjalanan.

Kira-kira 1 jam lebih dari homestay sampai ke Angel's Billabong. Yang ga kuat panas, silahkan bawa kain atau syal karena panasnya nusuk bray! Ada warung juga yang jualan pisang goreng sama minuman, bisa numpang neduh juga.

The best day of my life! Gue bersyukur banget bisa menyaksikan kreasi tangan Tuhan yang luar biasa ini. Lautnya biru banget, meski cuaca panas karena neraka bocor, tapi hati gue adem banget ngeliatnya. Jadi ikhlas lama-lama kepanggang sinar matahari gini.

Angel's Billabong dan Broken Beach atau Pasih Uug letaknya berdekatan. Tinggal jalan kaki aja. Sayangnya kita ga bisa turun ke pantainya untuk main air. Padahal kalo dilihat dari atas, karangnya full dan gue yakin banyak banget biota laut kecil-kecil yang belom pernah gue lihat sebelumnya. Semoga suatu saat dibuka akses untuk turun ke pantainya. Amin!
Angel's Billabong (dok. anginfilms)


Meskipun perjalanan sangat panjang, matahari ga nyantai, dan jalanannya yang bikin pantat gue sakit, tapi pas sampai lokasi... it was breathtaking! Ga bakal nyesel deh melewati rintangan silih berganti #cobaanhidupkali

Waktu itu Angel's Billabong lumayan rame dikunjungi, kebanyakan bule sama rombongan tour. Mau foto pun musti gantian biar masing-masing orang dapatin view yang sempurna, dengan ga ada yang nyampah jadi background.

Yang gue rasakan saat itu selain rasa kagum ialah LELAH! Lelah banget karena hampir ga ada pohon rindang untuk dukcan. Jadi alhasil gue ngemper aja di pinggir tebing, dan batunya tajam-tajam semua.
Menahan Tajamnya Tebing


Setelah puas di Angel's Billabong, gue pindah ke Broken Beach atau Pasih Uug. Letaknya sebelahan, sebenarnya masih di zona laut yang sama cuma harus sedikit jalan kaki lewatin hutan kaktus.
Kita ga bisa turun ke pantainya, karena ga ada akses sepanjang mata memandang. Spot ini emang khusus untuk foto-foto aja. Mau berjemur juga susah ya karena tebingnya lumayan curam, dan pastinya ga nyaman berjemur disini.
Broken Beach (dok. anginfilms)


Kita semua para pengunjung harus puas foto-foto di pinggirannya aja. Pokoknya masih ga ikhlas ga bisa turun ke pantai. Huhu. Dan ga banyak yang bisa kita kerjain di Broken Beach dan Angel's Billabong selain foto-foto dan berdecak kagum. Oh, tentunya Cepot nerbangin drone yang menarik banyak perhatian orang. Hehehe

Karena gue dan Cepot udah ngerencanain trip ini dari jauh hari, jadi kita ga mau cuma "begini" doang. Kita lanjut lagi ke Kelingking Beach, yang notabene medannya sama kayak ke Angel's Billabong; RUSAK
Seolah-olah gue pengen ngadu ke Pak Presiden untuk membangun jalan aspal di Nusa Penida. Tapi pasti nanti makin banyak orang kesini dengan mudah, because I am concerned that people will leave track (re: trash)anyway, entah lebih baik akses jalannya rusak begini atau beraspal. We'll see.

Kelingking Beach (dok. anginfilms)


And I was challenged. Gue tertantang ketika tiba di Kelingking Beach. (Gue pikir) Kurang lebih pengalamannya bakal sama aja kayak di Broken Beach, yakni kita harus puas dengan menikmati pemandangan aja. But I refused to do so. Jadi, di Kelingking Beach ini ada semacam anak-anak tangga curam yang mengarah ke pantai di bawahnya. Gue sempet ngeliat hanya ada beberapa orang (bule tentunya) yang so much having fun down there, and then I looked at the stairs. They weren't stairs.

Starways to the Beach (dok, anginfilms)


Cepot beberapa kali nanya apakah gue yakin mau turun ke pantai, dan gue dengan tidak yakin-yakin amat menjawab iya. And I did it. Gue menuruni anak tangga itu satu per satu, dan hampir kehilangan keseimbangan. Kaki gue udah gemetaran dan badan gue udah lepek karena keringet. Dan matahari itu pas banget di atas kita. Persediaan air minum menipis. And we could not go back, it was a half way there. Dalam hati gue menjerit ini pertama dan terakhir kalinya, do it or die in curiosity.

Cepot Exposs


Bersyukur Cepot ada untuk men-support gue. Menolong gue ketika gue udah ga tau lagi musti lewat mana. Hahaha... dan akhirnya kita sampai di bawah. Rasanya gue mau copotin kaki karena udah pegel banget. Ga banyak yang berani turun kesini, dan gue seketika merasa bangga sama diri gue sendiri. Gue adalah salah satu yang berani dan kuat (dikuat-kuatin). It was a happy ending, until I had to climb up again. Duh!

I did it!


Happy Ending. Masih Bisa Senyum


IF YOU WANNA SEE WHAT I DID ON THE SECOND DAY, THEN KEEP ON READING


RAWR!


Raja Lima Beach (dok. anginfilms)


Pagi-pagi pas lagi sarapan kita didatangin sama salah satu pengusaha snorkeling & diving di Nusa Penida, tentunya nawarin jasa water sport di hari terakhir kita disana. Niat sih ada, tapi apa boleh buat kita ga bisa berenang. Cepot takut kalo pemandangan luar biasa bawah laut itu kita lewatin gitu aja karena ga bisa berenang, dan panik di dalam air. LOL

Kalo kata Bli yang tak disebutkan namanya ini, Nusa Penida selalu panas. Hujannya cuma ada di November & Desember. Jadi kalo pada kesini pas liburan Natal dan Tahun Baru, siapin aja popcorn & teh madu anget buat di hotel karena ga bakal bisa kemana-mana; ombak kenceng banget, dan pastinya ga bisa nikmatin Nusa Penida to the max.

Oke, jadi kita beruntung berkunjung di bulan terakhir musim kemarau. Btw kita ga jadi daftar untuk ikutan snorkeling & diving meski hati kecil memberontak minta daftar. Kita tau diri :')

Sesuai rencana, kita berkunjung ke Atuh Beach. Oh iya, Bli itu juga sempet ngasih tau rute yang super recommended buat kita lewatin kalo mau ke Atuh Beach. Emang agak jauh sedikit, tapi di sepanjang perjalanan itu kita bisa mampir ke Tree House, Bukit Teletabis, dan Pantai Raja Lima.

Jadi, kata Bli itu kita ikutin aja jalur sesuai Gugel Maps, dan ketika sampai di petunjuk jalan pertama yang mengarahkan ke Atuh Beach (pertigaan jalan) kita jangan ikutin - instead kita belok kanan ke arah Pelilit. Ikutin terus petunjuk yang mengarah ke Pelilit. Pokoknya nanti tau sendiri deh, hehehe... Kecuali kalian mau to the point langsung sampai ke Atuh, sok silahkan ikutin sesuai Gugel Maps.

Jangan berharap jalanan bakal dihiasi aspal. Gue ga tau lebih parah mana akses jalan ke Angel's Billabong atau ke Atuh Beach. Kita enjoy-enjoy aja kok.

Raja Lima Beach (dok. anginfilms)


YES, THIS IS RAJA LIMA BEACH aka adek tirinya Raja Ampat. Kalo mirip atau ngganya gue ga tau karena belom pernah ke Raja Ampat. Tapi, sekali lagi gue mau bilang untuk bisa foto di spot kece ini kita harus nurunin bukit AGAIN. Well, tangganya ga separah di Kelingking Beach tapi dengan kondisi kaki yang masih kaku dan paha yang tiba-tiba jadi kencang, medan kayak gini lumayan bikin meringis juga.

BTW kita musti melewati Tree House (penginapan di rumah pohon) dulu. Ga jauh dari Tree House, ada semacam warung yang pemandangannya Raja Lima Beach. Di warung ini bisa makan siang dengan menu mie instan atau nasi goreng. Harganya standart lah. Bisa leha-leha juga. Dan di pantai ini kita juga ga bisa turun ke bawah. Jadi aktivitasnya hanya foto-foto dan berdecak kagum aja.

Atuh Beach


WHAT I HATED THE MOST ABOUT GOING TO THE BEAUTIFUL DESTINATION WAS THAT I MUST NANJAK!

Kenapa sih harus selalu nurunin tebing dan nanjak yang jaraknya jauh banget?! :'(

Sebelum bisa menikmati private island atau Atuh Beach, terlebih dulu kita harus menuruni anak-anak tangga (ini baru bisa dibilang anak tangga) ke bawah. Atuh Beach ini diapit oleh tebing-tebing yang tinggi banget, jadi garis pantainya pendek, ombak cenderung kencang, dan banyak batu yang tadinya gue pikir karang. Tentu saja gue ga bakal main air pas lagi terik begini, secara kulit gue udah kebakar matahari akibat ngebolang kemaren. Jadi gue santai-santai di warung sambil minum kelapa muda.



Kita menghabiskan sisa hari itu untuk leha-leha disana. Cuma kita turis lokal yang ada di pantai itu, liburan berdampingan dengan bule-bule. Di Atuh Beach lumayan banyak warung-warung yang juga menyediakan bean bag, bangku payung, dan sebagainya untuk si tamu tidur-tiduran atau berjemur. Syaratnya cukup jajan aja di warung itu, kita udah bisa tiduran di bean bag. BTW Cepot tidurnya pules banget siang itu, sambil dikipasin angin laut.

Saat itu gue berpikir, DAMN I WANT THIS KIND OF LIFESTYLE!

Pemandangan dari Warung


Hari itu terasa cepat banget, matahari udah semakin abis dan bule-bule udah pada balik, dan tukang warung udah beres-beresin bean bag & bangku payungnya. Saatnya pulang.
Seharusnya kita bisa lebih lama di Nusa Penida, tapi kebetulan ada keperluan di Kuta jadi harus buru-buru balik. Next time pasti bakal lebih lama lagi ~

PHOTO & VIDEO BY ANGINFILMS (INSTAGRAM)

Budgeting!

Tiket Pesawat PP 700k per person by Air Asia
Green Palm Homestay 592k per 2 nights (sarapan ala bule)
Scooter rent 150k per 2 and a half days (1 motor vario)
Mola-Mola Express 250k PP per person
Parking & Dll kira-kira 50k per 2 people (hampir semua masuk pantai bayar parkir dan tiket masuk)



Tips jajan murah di Bali, jangan sok-sok berbahasa asing terutama inggris. Karena harga lokal dan bule, BEDA!
Pengalaman gue sering dikira turis mancanegara, padahal logat gue medok kampung Bekasi tetap aja diajak ngomong inggris. Makanya kalo soal jajan gue minta tolong Cepot yang beli karena Cepot mukanya Betawi aseli. Hehehe...

Tips yang ga kalah pentingnya, kalo kalian tipe manusia yang ga mau ribet silahkan pake jasa tour. Di Nusa Penida berjibun, tinggal pilih aja cocoknya yang mana. Tapi kalo kalian manusia-manusia jiwa pengembara, silahkan jalan-jalan sendiri dan tentuin sendiri kemana kaki mau melangkah. Resiko nyasar disini sangat besar, terutama menjelang malam ga ada lampu jalan. Kanan kiri hutan, dan pemukiman warga jaraknya jauh-jauh. Kalo tiba-tiba kecium aroma dupa, itu bukan mistis. Mayoritas masyarakat Nusa Penida beragama Hindu dan disana kental banget budaya ritualnya (CMIIW), jadi sangat wajar di sepanjang jalan apalagi setelah melewati pemukiman warga, bau dupa itu ada dimana-mana. Pemandangan ini tentunya ga pernah gue temukan di Kuta dan daerah Bali lainnya (diluar Nusa Penida). So this is kind of new for me.

THEN, WHAT HAPPENED AFTER NUSA PENIDA?

Kita kembali ke Kuta untuk melanjutkan trip. Hehehe... see you on next trip!
Low Budgeted People On Vacation

WE ARE LOW BUDGETED PEOPLE WHO LOVE TO TRAVEL A LOT... HEHEHE



Ini pertama kalinya kita berwisata ke Belitung. Awalnya belom tau pasti sih mau ngapain aja selama disana, yang penting liburan! Soalnya kalo ke Bali udah bosen meskipun gak sering juga kesana. Setelah memutuskan untuk liburan ke Belitung, gue mulai cari info tentang pulau itu, ternyata aktivitas paling asyik adalah HOPPING ISLAND ~

Bagi yang belom tau apa itu HOPPING ISLAND atau bagi yang males Googling, nih gue kasih tau singkat. HOPPING ISLAND itu semacam wisata pulau naik kapal. Jadi kita keliling dari pulau satu ke pulau lainnya dengan menggunakan kapal nelayan atau kapal apapun deh yang bisa ngapung. Lalu pada saat HOPPING ISLAND ini kegiatan kita bisa macam-macam, misalnya foto-foto itu udah pasti, lalu bisa snorkeling atau diving.

Gue pengen banget berbagi pengalaman, itinerary, dan tips yang kita dapatkan selama liburan di Belitung selama 4H3M...
HERE WE GO!!!


27 April 2017

15:00 Touchdown di Bandara H.A.S Hanandjoeddin
Seharusnya kita tiba di bandara itu jam 10:25 dengan waktu perjalanan satu jam aja dari Bandara Soeta, tapi karena kendala cuaca jadi kita mampir ke Palembang dulu untuk isi bensin pesawat lalu cuss lagi ke Tanjung Pandan, Belitung.

Pas nyampe kita pesen taksi melalui hotel tempat kita menginap. Gak usah buang-buang waktu nunggu Damri karena gak ada Damri di Bandara ini, satu-satunya alternatif apabila udah telanjur gak ada persiapan kendaraan dari bandara ke kota adalah dengan naik taksi. Atau kalo gak mau repot, dari jauh-jauh hari pesenlah travel. Tapi gue gak nyesel banget sih, cuman repot aja karena bawaan kita lumayan banyak. Hehehe..

Perjalanan dari bandara ke Rahat Icon Hotel sekitar 30 menit. Abis check in kita istirahat bentar dan mulai list ulang mau kemana aja setelah ini. Akibat cuaca buruk tadi, sebagian itinerary kita agak berantakan dan akhirnya memutuskan untuk melakukan ulang semuanya besok.

BUDGETING TING!

Damri dari Bekasi Barat ke Bandara Soeta 90.000 / 2 orang
Tiket pesawat PP 1.240.000 / 2 orang (Lion Air PP)
Hotel 1.220.000 / 3 malam (Rahat Icon Hotel)
Taksi dari Bandara ke Tanjung Pandan 77.000 / perjalanan
Makan malam nasi goreng 30.000 / 2 porsi
Jus buah 23.000 / 2 gelas
Total : 2.680.000 / 2 orang (jadi 1 orang 1.340.000)

28 April 2017

Kita start the day mulai dari setelah sarapan sekitar jam 8.00 dan dimulai dari sewa motor... Pemilik dan staf di hotel ini ramah banget, gak ada yang cuek dan pastinya very helpful. Disini kita juga bisa isi air putih, minum kopi dan teh sepuasnya. Sarapannya juga enak semua, ada service anter ke kamar atau prasmanan.

Tujuan pertama kita hari ini ke Danau Kaolin. Mungkin sebagian kita udah tau kisah di balik danau cantik ini. Ya betul, ini adalah salah satu tambang timah terbesar di Indonesia. Bekas urukan tanahnya dibiarkan begitu aja sama pengembang, dan akhirnya membentuk kubangan-kubangan air berwarna biru kehijauan yang cantik banget. Alam selalu punya caranya sendiri untuk memperindah dirinya meski tubuhnya habis untuk kebutuhan manusia :'(



Di Danau Kaolin ini biasanya kegiatan wisatawan hanya foto-foto karena sejauh mata memandang gak ada orang yang berendam di kubangan kaolin tersebut. Hehehe... Kita sebenarnya dilarang untuk turun ke bawah danau tapi ada aja orang yang melanggar termasuk gue :D
Danau Kaolin ini letaknya di pinggir jalan banget, gak susah untuk menemukannya. Di Google Maps ada kok :) kira-kira dari kota sekitar 10-15 menit berkendara.



Setelah puas di Danau Kaolin, kita pergi ke kantor belitung.net untuk sewa kapal hopping island.
Kota Tanjung Pandan ini meskipun namanya KOTA dan infrastruktur udah bagus banget tapi masih terbilang sepi. Hmm, apa karena gue terlalu lama hidup di kota besar seperti Jakarta ya?! Entahlah... Tapi sepanjang jalan orang yang bepergian naik motor atau mobil sedikit banget. Dan ada satu hal yang membuat gue amazed. Ini sih agak berlebihan ya tapi ini gue alamin. Jadi pada saat lampu merah nyala, semua pengendara motor atau mobil tertib banget berhenti gak melewati garis jalan. Wih! Gue langsung norak gitu. I've never seen anything like that before. Seharusnya masyarakat Ibukota NKRI bisa menjadi contoh buat kota-kota lain di Indonesia, tapi gak juga ya. Malah Jakarta yang harus mencontoh masyarakat kota-kota kecil #miris

Kita dapet kapal untuk hopping island besok, yeay! Kata mas-masnya kita termasuk beruntung liburan ke Belitung pada bulan April karena laut dan cuaca sedang bersahabat, kebetulan juga belom rame karena diperkirakan rombongan wisatawan lokal bakal datang ke Belitung pada akhir pekan secara long weekend May Day gitu loh!


Abis puas di kantor Belitung.net, kita pergi ke Pantai Tanjung Pendam. Disini gue denger sunsetnya ciamik, kebetulan rekan seperjalanan-sehidup-semati gue lagi ngumpulin footage dan view buat koleksinya dalam merintis usaha drone videography. Tapi pada saat kita tiba di Tanjung Pendam, air lautnya lagi surut dan matahari juga masih tinggi.



Mumpung hari ini cuaca lagi cakep-cakepnya, kita memutuskan untuk makan siang di Pantai Tanjung Kelayang, kebetulan besok meeting point kita di lokasi ini. Nah, jarak ke pantai ini lumayan jauh nih dari Pantai Tanjung Pendam, kira-kira 45 menit. Sepanjang perjalanan gak perlu takut kena macet karena jalanannya mulus banget kayak baby ass. Bener-bener berasa milik pribadi deh. Rumah-rumah warga disini juga unik, kebanyakan masih pake desain rumah adat Belitung, yaitu Rumah Panggung (Rumah Panggong). Meskipun udah ada yang modern, tapi desainnya tetep berupa Rumah Panggung. Gue suka banget ngeliat penataan kota ini, ruang hijau dan bangunan itu seimbang jadi masih ada berasa ademnya.

Setibanya di Pantai Tanjung Kelayang, kita disambut oleh abang-abang tukang sewa kapal yang nanyain "apakah mau ke pulau?" atau "sudah sewa kapal?" atau "kalian mau kemana?" all we have to do is just answer them politely. Mereka gak berniat jahat atau ngerjain kita atau semacamnya seperti yang gue takutkan. They're all good guys! Kalo emang berencana untuk hopping island tapi belom sewa kapal, bilang aja ke mereka - nanti diurusin. Tapi berhubung kita udah sewa kapal, jadi kita bilang aja "udah sewa kapal kok, dan perginya besok pagi" that's it! Abang-abang itu pun akan diam dan gak bakal ngejar kita lagi. Mungkin untuk sebagian orang gak nyaman digituin ya, tapi mau gimana lagi. Begitulah cara mereka cari nafkah, harus agak agresif. Hehehe... Untuk range sewa kapal antara 450.000 sampai 500.000 tapi kalo on the spot gue kurang tau soalnya gak nanya-nanya juga sih.

Seperti yang sering kita lihat ikon Pulau Belitung adalah pemandangan pantai dengan batu-batu granit yang gueeedeeee banget, dan jumlahnya banyak. Nah, kita bisa menjumpai pemandangan itu di Pantai Tanjung Kelayang ini. Suasana sekitar dan dalam pantai sepi-sepi aja. Eh iya, disini banyak anjing liar tapi gak galak atau ngejar kok. Selama kita gak ganggu, mereka juga gak ganggu.



Pantai Tanjung Kelayang ini menjadi meeting point satu-satunya kalo kita mau hopping island. Jadi banyak banget kapal nelayan bersandar disini, disini juga ada restoran seafood dan semacam warteg gitu - ada jual indomie juga, dan lagi-lagi sepi pengunjung. Kita memutuskan untuk makan siang dulu, baru lanjut jalan-jalan lagi.

Kita gak mau menyia-nyiakan momen untuk main hp terus kecuali foto-foto dan video. Sayang banget guys pemandangan indah dengan air laut yang masih bening dilewatkan begitu aja cuman untuk update, boleh sih update tapi jangan setiap saat cek yang Like udah berapa. Hehehe... Gue baru kali ini melihat air laut yang masih bening dari jarak dekat. I could touch the water and nobody told me no.

Puas berjemur di atas batu berasa ikan asin, dan my partner udah puas juga nerbangin dronenya, kita memutuskan untuk pergi dari situ. Terus tiba-tiba jadi mendung dan sedikit gerimis. Oh iya, selama kita nongkrong, main, dan lompatin batu-batu granit, nobody was around, it was just us like we owned a private island. What a paradise!

My partner masih getol pengen rekam sunset, akhirnya kita kembali ke Pantai Tanjung Pendam tapi nasib banget matahari masih tinggi. Lalu sempat terlintas mau ke Belitung Timur lihat replika Sekolah Laskar Pelangi tapi jauh banget boo! Perjalanan sekitar 90 menit dan waktu itu udah lumayan sore. So kita gak jadi kesana dan kayaknya gak ada agenda kesana juga secara besok hopping island udah dimulai. Jadi sebagai alternatifnya kita keliling aja dan mampir makan Mie Atep.

Gue sempat penasaran sama rasanya, kalo dari penampakannya sih biasa banget. Lalu akhirnya gue punya kesempatan untuk makan Mie Atep, rasanya lumayan enak meskipun rada manis kuahnya. Gue gak fotoin mienya karena kalo udah dihadapkan dengan makanan, setengah otak multimedia gue udah mati, hahaha.. taunya makan aja.

Masih ada waktu untuk jalan-jalan sebelum sunset, kita memutuskan untuk beli oleh-oleh. Takutnya besok gak keburu karena kita bakal ngebolang di pulau-pulau seharian. Gue lupa nama toko tempat kita beli oleh-oleh dimana.
Nampaknya my partner kurang beruntung karena langit tiba-tiba berawan parah, jadi mataharinya gak keliatan cuman bias-bias cahaya yang bocor dari awan-awan. Akhirnya dia rekam untuk dijadiin time lapse.
Cukup melelahkan juga seharian ini jalan-jalan, rambut udah lepek, badan udah bau asem, dan pastinya perut masih lapar. Duh! Sebelum balik ke hotel kita mampir beli makan malam dulu.

BUDGETING TING! 

Sewa motor + bensin 100.000 / hari
Masuk Danau Kaolin FREE (gak ada yang jaga, bebas keluar-masuk)
Sewa kapal 450.000 / hari >> udah termasuk bensin dan supirnya (iyalah!)
Masuk Pantai Tanjung Pendam 4.000 / 2 orang (seharian keluar-masuk, tapi kita bayarnya jadi 3.000 karena abangnya gak ada uang 1.000 untuk kembalian jadi dia kasih kita 2.000)
Makan Siang Seafood 128.000 / 2 orang (3 nasi, 1 cumi saos padang, 1 ikan bakar)
Parkir Pantai Tanjung Kelayang FREE (kita sempat ngasih 5.000 tapi mereka menolak semua katanya disini parkir gratis)
Mie Atep + Jeruk Kunci 43.000 / 2 porsi (agak lupa tepatnya berapa)
Oleh-oleh seadanya 371.000 / 2 orang (didominasi oleh kerupuk)
Makan malam beli sate ayam 26.000 / 2 porsi
Risol 5.000
Jus mangga 10.000 / gelas
Total : 1.136.000 / 2 orang (jadi 1 orang 568.000)

29 April 2017


Langit bener-bener cerah nih, kita keluar dari hotel agak pagian karena janjian sama Pak Murat jam 8.00 pagi di Tanjung Kelayang. Kita sewa motor lagi karena untuk trip kali ini kita mandiri, alias menyiapkan segala keperluan selama di laut sendiri; mulai dari bekal makan siang, cemilan, dan kebutuhan lain yang kira-kira diperlukan. Kita mampir beli nasi padang 4 bungkus buat kita berdua dan abang supirnya (nahkoda). Dari hotel gue membekali diri dengan air minum yang banyak, yah namanya juga low budgeted travelers ya jadi harus pinter-pinter manfaatin kondisi.

Perjalanan terasa singkat, dan pas nyampe di parkiran kita langsung ketemu sama Pak Murat, lalu kita dianter untuk tunggu kapalnya ready. Gak perlu lama nunggu, our nice hopping island is on!

Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Pulau Pasir. Kebetulan yang bawa kapal hanya satu orang yang bernama Pak Halim. Pulau Pasir ini sesuai dengan namanya, nothing else but sand. Uniknya pulau ini sering disinggahi bintang laut tapi waktu kita datang bintang lautnya agak malu-malu, akhirnya ketemu beberapa berkat Pak Halim yang mau capek-capek nyariin buat kita. Pulau Pasir ini hanya bisa kita nikmati jika air laut lagi surut, kalo air lautnya lagi pasang pulau ini ketutupan air.


Pulau Pasir ini seluas perairan yang berwarna kehijauan itu. Jadi tempat yang kita diriin itu hanya sebagian mungil dari pulau ini. Isn't it amazing?



Bintang lautnya cuman ada 2 tapi itu pun udah membuat gue bahagia banget. Hahaha... kata Pak Halim, bintang laut gak bisa lama-lama di darat - nanti badannya kaku gak bisa menyerap air. Jadi setelah foto-foto, gue langsung taro lagi ke air dan bener dong ada 1 yang kaku jadi dia ngapung. Tapi, jangan panik! Yang harus kita lakukan adalah goyang-goyangin kelima tangannya agar lentur lagi, abis itu taro aja di air nanti dia kabur sendiri.

Setelah puas di Pulau Pasir, kita lanjut ke Pulau Lengkuas... Gue gak tau apa yang dimaksud Lengkuas pada pulau ini, dari atas pun gak kelihatan seperti Lengkuas. Baiklah... Pulau Lengkuas dijadikan spot ciamik untuk yang suka snorkeling karena terumbu karangnya warna-warni dan ikan-ikannya pun beragam


Tuh lihat terumbu karangnya banyak banget dan spot snorkelingnya luas hampir mengelilingi Pulau Lengkuas :')

Tapi sayang banget kita gak bisa snorkeling di Pulau Lengkuas karena waktu itu pas banget tiba-tiba berawan dan angin kencang, hasilnya ombak jadi kencang juga. Pak Halim gak ngambil resiko untuk snorkeling di Pulau Lengkuas. Kita muter-muter cari laut yang ombaknya gak begitu kencang, lalu tibalah kita di Pulau Kepayang. Disini kita bisa snorkeling. Untuk mancing ikannya keluar, kita siapin biskuit tapi sayang banget gue gak bisa foto-foto dalam air karena kameranya gak bersahabat. Jadi kenangan snorkeling di Belitung cuman bisa gue abadikan dalam memori otak aja.


Setelah cukup main sama ikan-ikan, kita pindah ke Pulau Batu Belayar. Sesuai namanya, di pulau ini banyak batu-batu gede banget dan kita bisa manjatin serta foto-foto juga. Ombaknya gak besar sama sekali, mungkin karena ketahan sama bebatuan jadi aman banget buat anak kecil main disini tapi lagi-lagi sepi banget dan gak ada anak kecil.




Pulau ini eksistensinya mirip kayak Pulau Pasir, hanya bisa dikunjungi ketika air laut lagi surut. Kalo lagi pasang, yang kelihatan hanya bebatuannya aja jadi sekilas seperti batu-batu ini lagi berlayar, disebutlah Pulau Batu Belayar. Pulau ini gak begitu luas dan pemandangannya hanya ada batu aja.

Next stop adalah Pulau Kelayang. Pulau ini letaknya dekat dengan Batu Garuda. Pak Halim mengajak kita main ke Goa Kelayang. Kita harus sedikit effort untuk sampai di Goa Kelayang ini. Masuk lewat hutan, melewati bebatuan tinggi dan curam, resiko kesandung gede banget disini kalo gak hati-hati, apalagi kalo pake sendal cantik kayak yang gue pake. Hahaha... Perjalanan memakan waktu 5-10 menit bagi yang awam seperti kita, tapi kalo kayak Pak Halim 3 menit juga udah nyampe, dia jalan melewati medan yang terjal itu udah berasa kayak jalan di ubin.


Ini bukan banjir yaa.. Air-air ini adalah hasil semburan ombak yang terjebak di bebatuan dalam goa, jadi airnya gak bisa kemana-mana kayak banjir. Kalo kita jalan terus sampai ke ujung goa ini adalah lautan lepas. Kita juga musti hati-hati dengan hewan yang tinggal di dalam air ini, kata Pak Halim ada hewan yang menyerupai batu dan hobinya melukai pengunjung yang gak hati-hati. Tapi selama kita disana sih gak kenapa-napa. Aman!


Letaknya yang di tengah hutan membuat udara di sekitarnya seger. We were so lucky to ever witness this kind of masterpiece!

Berakhirlah hopping island kita hari itu. Semua jerih payah kita terbayarkan dengan amazingnya alam Belitung. Yeay! Abis itu kita kembali ke Tanjung Pandan serba kedinginan karena udara sejuk abis ujan deras. Setelah berada di hotel kita mandi, kita keluar untuk cari makan malam di Gang Kim Ting. Menurut info yang gue baca, Gang Kim Ting ini kalo malam hari menjual aneka street food tapi waktu kita datang kesana sepi banget. Adanya pedagang buah-buahan, nasi goreng, dan apa lagi gitu gue lupa - pokoknya jauh dari istilah "street food" itu. Akhirnya disana kita beli lengkeng buat dicemilin, dan beli ayam gepuk yang jualan gak jauh dari sana. After we had dinner, we took some rest because we were so friggin tired. Huh!

BUDGETING TING!
Sewa motor + bensin 100.000 / hari
Nasi Padang 70.000 / 4 bungkus
Air mineral 1.5 liter 6.000 / botol
Sewa alat snorkeling 100.000 / 2 paket (lengkap dengan fin dan pelampung)
Indomie + Telor 30.000 / 2 porsi
Lengkeng 20.000 / kantong
Ayam Gepuk 50.000 / 2 porsi (3 nasi, 2 ayam, 1 ati-ampela, 1 tahu)
Risol 5.000
Jus buah 20.000 / 2 gelas
Total : 401.000 / 2 orang (jadi 1 orang 200.500)

30 April 2017

There was not much we could do on the last day. We packed our stuff and had breakfast and then got ready to go home... Hal yang gue suka dengan Belitung adalah keindahan alamnya yang terjaga, warganya sangat ramah dan sangat helpful. Gue pastinya gak bakal nolak kalo ditawarin kesini lagi, secara gue belom ngerasain snorkeling di Pulau Lengkuas dan mengunjungi Belitung Timur.

It was an unforgettable 4D3N and I will never have enough of traveling hidden paradise in Indonesia. See you on next trip!

BUDGETING TING!
Taksi ke Bandara H.A.S Hanadjoeddin 81.000 / perjalanan
Beli es krim di Bandara Soeta 23.000 / 2 porsi
Damri Bandara Soeta ke Bekasi Barat 90.000 / 2 orang
Total : 194.000 / 2 orang (jadi 1 orang 97.000)

Total seluruh budget : 4.411.000 / 2 orang (jadi 1 orang 2.205.500)

Money does buy me happiness, it pays my ticket, my hotel, my meals, and my experience :)

Hampir Mati Gara-gara Nahan Napas







Ikannya Tau Gue Udah Hampir Nyerah
Gak Jadi Mati
Soooo, this is the moment I’ve been waiting for at least two months since I booked my flight to Padang in July…

Gue akhirnya bisa escape lagi dari hingar bingar pekerjaan kantor dan getar getir keramaian Ibukota. Wisata bahari gue tunjuk untuk memenuhi hasrat gue terhadap alam khususnya pantai

*don’t call me traveler or tourist because I am neither of it*

Semua bermula ketika gue lagi browsing iseng disela jam-jam sibuk bekerja, ehek! *sibuk mencari-cari kesibukan* nah karena udah beberapa hari terakhir ini gue rajin banget browsing tentang pantai yang rekomen buat water sports, jadi entah kenapa di ads setiap halaman web yang gue kunjungi isinya semua promosi perjalanan pulau gitu. Biasanya sih gue ignore aja karena ads-ads kayak gitu kebanyakan zonk!

Zonk itu maksudnya kadang gak memenuhi ekspektasi gue. Ya akomodasinya mahal lah, fasilitasnya gak worth it, tempatnya jauh di pedalaman lewati lembah menyebrangi sungai melintasi angkasa dan lain-lain. RIBET! Itu sebabnya sekali lagi, gue gak mau beli paket holiday yang ditawarkan oleh ads-ads yang (maaf) kurang jelas asal-usulnya dari mana.

Mendingan gue urus semua sendiri, seperti akomodasi, itinerary, P3K *hansaplas dan minyak kayu putih*, dan plan B *ini yang sering gak kepikiran* Setidaknya kalo acara gue ancur gak sesuai harapan, gue gak bisa nyalahin siapa-siapa selain diri gue sendiri dan bisa mengubah rencana sesuka gue tanpa harus minta persetujuan pihak lain. Itu kalo perginya sendiri. Kalo perginya sama pacar sama aja sih, biasanya dia bakal bilang “terserah” ~

Okay, balik lagi. ─lalu gue melihat ads dengan gambar yang super duper keren banget. Itu gambar pantai dengan air yang sangat jernih dan dikelilingi oleh pulau-pulau. Namanya Pulau Pasumpahan. Karena rasa penasaran gue, dan untuk memastikan apakah gambar ini bukan hasil photoshop, maka gue googling aja biar gak menimbulkan fitnah di kemudian hari. AJEGILE! Bener aja aslinya keren bray…

terletak di perairan Kecamatan Bungus, Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat. This is the another hidden paradise in Indonesia, kawans! Langsung gue cari informasinya dari blog-blog pengalaman orang yang udah pernah kemari, dan semua reviewnya keren-keren meski gak banyak blog yang gue temuin tentang pulau ini.

Dengan kata lain pulau ini masih belom sepenuhnya terjamah sama tangan manusia. Pulau Pasumpahan ini terkenal dengan air pantainya yang bergradasi dari putih/bening, biru muda, biru tua. Hal ini tentu jarang bahkan belom pernah gue lihat sendiri dengan mata silinder gue. Inilah informasi yang gue dapat dari pengalaman orang, dan gue akan membuktikannya. Jeng!

Ketika sedang asiknya kepo, gue nemu website www.wisatapulausumaterabarat.com yang menawarkan one day trip ke beberapa pulau salah satunya Pulau Pasumpahan. Awalnya gue agak ragu untuk memesan karena gue pun masih gak tau apakah gue bakal ke Padang atau ngga, mengingat duit gue tinggal dikit dan pacar mengikhlaskan gue pergi sendirian.

Awalnya kita udah pernah bahas ini dan dia tetap pada pendiriannya kalo ke Padang, dia hanya bisa antar ke bandara dan membiarkan gue membabi buta disana seorang diri. Intinya dia gak mau ikut kalo ke Padang.

Setelah gue mempelajari isi websitenya dan harganya sesuai dengan ekspektasi gue, gue agak tertarik untuk memakai jasa one day trip ini.

“Anak Kampung yang Biasa di Kota Berwisata ke Kampung Orang”

itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan diri gue di tengah kota Padang. Hmm, gak tengah juga sih, gue di pinggiran kotanya. Ya kayak Bekasi terhadap Jakarta gitu lah. Jakarta kotanya, Bekasi pinggirnya. Pokoknya dalam benak gue jangan sampe jadi kampungan di kampung orang.

Well, selama di Padang gue menginap 3 malam di Yani Homestay, pemiliknya baik dan ramah banget. H-30 sebelum kesana, gue udah nanya-nanya informasi sama yang punya homestay (yang sampai detik ini gue gak tau nama aslinya siapa) tentang angkot yang bisa gue naikin untuk ngetrip.

Dengan sabar dia menjawab gue dan semua pertanyaan gue terjawab sempurna. Btw yang punya homestay ini laki, dan dari awal gue kira cewe yang gue panggil “mbak yani”, beliau juga gak protes dan tetap melayani pertanyaan gue sebagai “mbak yani”. Yani itu nama siapa juga gue gak tau. Mungkin namanya Ahmad Yani, kayak nama pahlawan. Entahlah…

Maaf ya ini jadi loncat-loncat ceritanya. Abisnya banyak yang mau gue certain tapi bingung mau mulai dari mana. Maklum perjalanannya seru dan semua yang gue alamin juga seru semua. Hahaha…

Mungkin kalian pada bertanya apakah gue jadi one day trip? Apakah gue jadi liburan sendirian di Padang? Apakah gue rela membayar harga tiket pesawat PP Jakarta-Padang hanya untuk melihat pantai? Ya!

Meski diwarnai sedikit drama antara gue dan jasa one day trip, sebut saja Bang Adi (emang nama aslinya, hehehe) gue gak kehilangan interest sama sekali, dan Bang Adi gak serta-merta jadi musuhin gue. Dramanya gini, jadi gue udah menghubungi Bang Adi jauh hari sebelum ke Padang… gue nanya-nanya soal one day trip dan beliau menjawab gue dengan baik meski slow respond terus, akhirnya gue deal one day trip yang tiga pulau seharga 280k, gue lupa pulau apa aja yang pasti ada Pulau Pasumpahannya.

Bang Adi meminta DP sebesar 100k yang udah gue setujui tapi gak gue transfer karena gue nunggu tanggal merah (datang bulan) kelar. Gue juga gak kepikiran ada tanggal merah dan waktu itu tiket pesawat udinan lunas. Gitu aja sih dramanya, beliau juga gak nagih terus-terusan.

Malah setelah deal itu kita gak ada hubungan apa-apa lagi

#eaaa

Maksudnya ngga saling mengontek lagi

#eaaaa

Haduh… intinya gitu deh.

Sampe H-3 gue kembali mengontek Bang Adi untuk menanyakan status bookingan gue masih berlaku apa ngga, dan ternyata udah ngga. Untung gue gak jadi transfer, pikir gue waktu itu.

Sept 2nd

Berbekal keyakinan dan lindungan Tuhan Yang Maha Esa gue berangkat ke CGK dianter kakak dan bapak gue. Sempet mengawang-ngawang disana kayak apa nanti ya, secara gue belom pernah ke Padang. Dan kali ini gue perginya sendirian. Bener-bener sendirian.

Harga Tiket Sriwijaya Air PP Jakarta - Padang
Banyak yang bilang gue buang-buang waktu disana tanpa tujuan yang jelas, ada yang bilang juga gue cukup berani pergi sendirian ke tempat yang gak familiar, ada juga yang bilang gue terlalu banyak duit cuman untuk lihat pantai #wusss

Mau pada bilang apa juga ini tiket udah di tangan dan apa pun yang terjadi gue bakal ke Padang meski rencana gue ancur berantakan. #uhuk!

Gue dikejutkan dengan kehadiran pacar di KFC terminal 2F CGK, dia ternyata datang untuk nganter gue sampe gue masuk ke ruang tunggu maskapai. I’m so happy seeing him waiting on me, it’s like a little surprise :D

Setelah cek in *yang paling penting* gue dan pacar sarapan Riser dulu dan kita sempet narsis dikit. Agak sedih kali ini gue ngetrip tanpa dese, jadi mungkin hari-hari gue disana bakal sedikit bosan. Mikirnya begitu.

Setelah kurang lebih dua jam kemudian, pesawat gue mendarat dengan sempurna di BIM, dan gue poop dulu karena udah kebelet banget sejak dari rumah (gue sengaja gak poop dulu di rumah karena takut telat nyampe bandara) :’)

Karena kentut gue udah mengganggu seorang ibu yang duduk di sebelah gue. Hahaha! Maap ya bu :( Terus gue langsung nyari Damri sesuai dengan arahan pemilik homestay yang udah gue kepoin jauh hari. Gak sulit menemukan Damrinya, ada poolnya sama kayak di CGK dan Damri di Padang cuman the only one jurusannya BIM – Jalan Imam Bonjol yang memakan waktu satu jam kalo lancar. Rute baliknya juga sama. Tarifnya 23.500,- saja. Harga yang nanggung sebenarnya, gak apa-apa lah.

Sepanjang perjalanan gue tetap memantau dengan Waze, kalo di Waze jalannya lurus-lurus doang. Kanan-kiri pemandangannya rumah warga, warung, dan sekolah, dan agak gersang sih menurut gue. Sebelum Damrinya jalan gue udah bilang ke keneknya untuk turunin gue di Texas Chicken, sesuai dengan arahan pemilik homestay. Seperti biasa, keneknya menyebutkan nama daerah yang gue gak tau dan dengan keteguhan iman gue mengiyakan seakan gue tau :’)

Gue sengaja gak tidur dan terus lihatin jalan dan Waze, siapa tahu Texas Chickennya kelewat, dan untung aja ngga… keneknya baik dan sebelum Damrinya melewati TC, dia udah ngasih tau kalo sebentar lagi sampe. Gue turun tepat di depan TC sambil pelongo-pelongo nyari ojek yang mungkin pada saat itu abangnya lagi makan siang atau gabut di rumah. Gak ada ojek, gue pun jalan kaki ke homestaynya. Huh hah huh hah!

Sekitar sepuluh sampai lima belas menitlah gue tiba di Yani Homestay Jalan Nipah nomor 1. Homestaynya sederhana berlantai dua, dan plangnya ketutupan pohon, jalanan di sekitar sana agak sepi tapi banyak angkot lewat. Setelah cek in dan di kasih kamar, gue langsung rebahan. Capek sih ngga, ngantuk aja. Hehehe…

Sekitar jam 16.00 – 16.30 WIB Gue bangun tidur dan langsung pengen jalan ke Pantai Padang yang berjarak tiga menit jalan kaki, kalo jalannya santai sekitar lima menit dari homestay. Pantainya biasa aja, sepi dan gue gak menginjakan kaki disana karena emang dari lihat udah gak interest.

Karena one day trip gue akan dilaksanakan besok pagi (Sabtu, 3 September), jadi naluri gue tiba-tiba mengidekan untuk coba survey kesana naik angkot supaya besok gue udah tau berentinya dimana, sekalian ketemuan sama Bang Adi kalo sempet. *gue belom juga DP seperti yang telah disepakati, karena gue pikir gue mau bayar langsung aja. Karena kalo gue transfer gue akan dikenakan charge 7000 karena beda bank. Pelit ya? Terus sekalian gue mau lihat rupanya Bang Adi tuh gimana supaya besok tau yang jemput gue siapa di tempat penyebrangan*

Naiklah gue ke angkot warna biru jurusan Pasar Raya, lagi-lagi sesuai arahan pemilik homestay. Dia baik ya… gue gak banyak cincong selama di dalam angkot, tapi gue sempet ngasih tau supirnya kalo gue mau ke Bungus ← tempat penyebrangannya a.k.a meeting point. Supirnya pun mengoceh apa gitu gue gak merhatiin. Bentar doang sampe di Pasar Raya dengan ongkos 3000, selanjutnya gue menunggu angkot biru lagi dengan jurusan Bungus Teluk Kabung.

Kira-kira dua menit celingak-celinguk, akhirnya datang juga angkot birunya. Gue sempet bertanya sama supirnya apakah angkot ini ke Bungus, dia ngejawabnya lama kayak agak ragu gitu dan sontak gue pun jadi ragu sama dia. Akhirnya dia bilang ‘naik aja!’ bodohnya gue naik. Seharusnya gue make sure lagi, karena udah keburu naik dan supirnya ngebut gue gak bisa apa-apa. Waktu itu udah sore dan mendung, batre hp gue juga udah mau low. Matek!

Lalu hal mengesalkan pun terjadi. Di tengah jalan, abangnya baru ngasih tau kalo angkot ini ngga ke Bungus, dan dia juga ngasih tau kalo gue salah naik angkot. Kan kampret! Ah males banget gue kan… huh! Gak tau ini lagi dimana, dan bagaimana caranya gue balik ke homestay, abang ini pun juga gak merekomen alternative.

Lalu dia bilang kalo angkotnya menuju Teluk Bayur, gue agak familiar dengan nama itu. Dan gak lama dia menawarkan diri untuk mengantar gue sampe ke Bungus dengan tambahan uang. Dia nembak 70k kalo gak salah, ongkos dia sebenarnya cuman 15k. WTF! Tentu saja gue menolak. This is not because I’m pelit, it’s because I’m surveying and I need to know the right route to Bungus because tomorrow is the day!

Gue minta di turunin di pertigaan sebelum angkotnya menuju Teluk Bayur, dan gue bayar 15k. Disana gue buta, buta jalan karena gak ada angkot lagi dan gue gak tau musti kemana. Hahaha… dramatis!

Gue berdiri di pinggir jalan sambil mikir keras, GPS pun gak berfungsi karena gue gak tau tujuan gue harus kemana lagi. Dan di pinggir jalan itu kebetulan adalah pool mobil travel yang ngangkut penumpang ke Pesisir, gak tau pesisir apa yang dimaksud.

Gak lama gue pun disamperin sama salah satu kenek travel itu, nanya gue mau kemana. Percakapan pun dimulai, yang awalnya gue takut sampai gue merasa bahwa mereka adalah orang baik, tampangnya doang kayak preman.

Kalo ini Jakarta dan ceritanya gue orang awam, udah abis gue dikerjain. Serius! Dua orang abang yang tak diketahui namanya ini, sebut saja abang A dan Abang B, cukup ramah sama gue dan dia sempet nawarin naik mobil travelnya menuju Bungus.

Gue menolak karena takut dimahalin (masih trauma sama supir angkot tadi) lagipula gue tetep kekeh mau tau rute angkot yang bakal membawa gue ke Bungus besok. Disitu gue nungguin angkot sembari ngobrol sama Abang B, dan hari udah semakin gelap karena mendung juga. Lalu dia ngasih tau gue kalo misalnya dari Bungus nanti udah kemaleman dan gak ada angkot lagi, naik mobil travel aja bayar 10.000,-

Jeng Jeng! 10.000 doang tarifnya. Tarif yang gue pikir bakal 50.000an ternyata cuman 10.000! Yeh kenapa gak dari tadi aja bang ngasih taunya kalo cuman 10.000?! hayati lelah…! Udah keadaan begini pun gue masih gengsi untuk berubah pikiran dengan naik mobil travel abangnya, dan gue masi nungguin angkot jurusan Bungus Teluk Kabung yang benar.

Beberapa belas menit kemudian baru angkot biru nomor 437 tujuan Bungus yang benar datang dan gue naik. Disitu gue udah berharap banget kalo gue bakal tiba di tujuan dengan selamat tanpa drama-dramaan lagi.

Huhu… Daaaann, Tuhan masih baik sama gue karena gue masih diberikan otak untuk mikir jernih ketika gue diturunin abang angkot biru nomor 437 di ujung jalan, kata abangnya this is the finish line (pake bahasa Padang campur Bahasa Indonesia) dan dia mau balik lagi ke pool.

Abang ini mungkin tau kalo gue bukan warga lokal jadi sebelum dese muter balik dia sempet nawarin untuk manggil ojek nganter gue entah kemana tujuan gue. Dengan tegas gue menolak dan memilih untuk jalan kaki aja. Kayaknya sih tampang gue gak bisa diumpetin kalo gue bingung banget dan ilang arah gitu, gue inget sih jalan balik ke tempat dimana gue ketemu sama Abang A dan Abang B tapi jauh men! Naik angkot aja setengah jam lebih, apa kabar jalan kaki?!

Lalu, gue berhenti di depan Kantor Kelurahan Bungus Barat, disitu gue teringat pesan Abang B untuk nyuruh gue naik mobil travel aja dengan bayaran 10.000,- masalah nanti setelah turun mau naik apa itu urusan nanti.

Perasaan gue udah gak enak ketika warga sekitar mulai memperhatikan gue… I’m probably the only one who looks different than the local people. I am not Padang and I’m Chinese-like, which is totally different dan gue mulai gak nyaman berada disitu lama-lama.

Lalu ada seorang Abang menghampiri gue dengan logat yang agak asing buat gue, logat Padang gitu lah, ngomongnya juga rada gak jelas. Gue pun gak terlalu nanggepin dia karena gue tau tujuannya untuk nawarin ojek.

Dese ini tukang ojek, itu jelas terlihat karena di seberang tempat gue menunggu itu pangkalan ojek. Abang ojek ini bersikeras menawarkan jasanya ke gue, dia juga bilang kalo angkot yang lewat sini udah gak ada lagi jam enam, dan pada saat itu udah jam enam-an.

I’M DEAD! I’M DEAD! I’M DEAD! I’M DEAD!

Gue cuman pengen orang ini pergi dari hadapan gue, karena gue takut! Tapi dia tetap memaksa mau nolongin gue. Setelah gue pikir-pikir mungkin abang ini benar karena gak ada angkot yang lewat daritadi, lalu gue iseng aja nanya ongkos ojeknya kalo dia nganter gue sampe pangkalan mobil travel tadi berapa, dia menjawab 20.000 dengan wajah memelas yang maksudnya supaya gue gak nawar lagi.

20.000 aja ongkosnya yang gue pikir bisa mencapai 80.000-an. Semua kelebayan ini karena trauma yang gue hadapi pasca bertemu dengan supir angkot pertama. Huh! Jadi semua orang gue prasangka burukin. Setelah menghitung ternyata cukup worth it dan daripada gue berdiri disitu menunggu sesuatu yang gak dateng-dateng, mending gue cus aja sama abang ojek ini dengan tarif 20.000,-

Sebut saja Bang Dory, karena abang ini suffers from a short term memory loss~ Baru sekitar lima menit kita cus ke tujuan gue, dia udah nanya lagi gue mau dianter kemana. Gue menjawab dengan sabar dan perasaan gue udah ngasih tau dia deh.

Dia bakal terus mengulang pertanyaan yang sama setiap kali kita lagi asik ngobrol, ada aja yang ditanyain. Lalu ada titik dimana gue memutuskan kalo abang ini adalah Dory versi manusia. Di tengah jalan gue punya ide brilian, kenapa gak Bang Dory nganter gue sampe homestay dan gue bayar dua kali lipat jadi 40.000?? Tanpa mikir dan menawar Bang Dory setuju! Well, mungkin harga segitu termasuk mahal bagi Bang Dory dan murah bagi gue.

Secara disana gak ada online transportation, sama sekali. Jarak dari tempat Bang Dory nganter gue dan ke homestay sekitar satu jam. Menurut gue sih 40.000 cukup worth it. Gue dapat banyak informasi dari Bang Dory, tapi tujuan gue ke Padang cuman mau lihat Pulau Pasumpahan doang dan water sports disana.

Jadi informasi yang telah diberikan itu gak masuk di gue tapi gue tetap terima kasih, setidaknya info soal angkot di Padang sangat berguna. Sejauh ini gue bertemu dengan orang-orang yang setidaknya berniat baik sama gue, tapi guenya aja yang parnoan karena kelamaan mengadu nasib di Jakarta yang susah-susah-gampang nyari orang berniat baiknya.

Angkot di Padang (bukan kota besarnya) beroperasi dari subuh sampai jam enam sore aja. Selebihnya naik ojek dengan tarif yang relative murah, itu juga masih bisa nawar sama orangnya. Tapi nawar sama orang Padang agak susah untuk deal, kalo udah capek dan buru-buru pengen pulang, deal aja… kalo lagi capek, harga seberapa pun (selama masih masuk akal) tetap worth it. Paling mahal 5-10 ribu aja~ hmm, ehek!

Sept 3rd

Gue udah bilang Bang Dory untuk menjemput gue di homestay jam enam pagi, gue juga terus ingetin dia karena dia pelupa orangnya. Untunglah dia on time, pas banget jam enam pagi dia udah nongki di depan homestay gue, dan kita cus ke Bungus Teluk Kabung tempat meeting point gue sama Bang Adi, si empunya jasa one day trip.

Dipandu Waze, kepedean gue melonjak tinggi. Gue masih gak tau meeting pointnya berbentuk apa─depan gapurakah? Dermagakah? Rumah Bang Adinya kah? Pinggir jalankah? I have no idea. Patokan gue cuman satu: KANTOR KECAMATAN BUNGUS…

Semalem gue udah menghubungi Bang Adi lagi, dia bilang dari kantor kecamatan sebelah kirinya ada gang, nah masuk ke situ kira-kira 40 meter nyampe. Seharusnya mudah ya. Kita sempat salah belok, dan Kantor Kecamatan yang dimaksud bukan KANTOR KECAMATAN BUNGUS, tapi KANTOR KECAMATAN PASAR LABAN.

Di samping kirinya juga ada gang tapi lebih sempit. And here I am… udah ketemu sama Bang Becky, salah satu krunya Bang Adi. Kebetulan saat itu Bang Adi lagi di kota, jadi sementara akomodasi beliau lemparkan ke Bang Becky. Nyampe disana jam tujuh paginawati, sementara kita mulai melaut jam delapanan paling telat setengah Sembilan.

Nothing I can do here, litteraly. Cuman duduk doang sambil memandang ke Pantai Bungus yang tepat berada di depan gue. Banyak kapal nelayan ngapung disitu, dan inilah meeting pointnya.

Berasa sih nunggu sejam, terus mulai muncul peserta lain. Ada dua keluarga, satunya udah punya tiga anak, dan satunya masih berdua. Pikir sendirilah maksudnya gimana. Gak lama, kita naik perahu menuju Pulau Pagang dulu dan gue naik diatas banana boat yang ditemani dua kru yang bernama Bang Rocky dan Bang Eeng.

Bang Eeng ini ternyata gak bisa ngomong Bahasa Indonesia, hahaha. Pantesan pas ngomong sama gue gak nyambung. Shiet! Mereka semua baik banget! Gue gak promosi ya, karena gue gak dibayar buat begini dan malah gue bayar jasa mereka untuk mengantar gue melihat hidden paradise itu. Seriously, they’re all good guys.

Meski tersendat bahasa, tapi mereka mau berusaha berbahasa Indonesia yang jelas pas ngomong sama gue. Gue pun menjaga logat dan penuturan bahasa gue supaya mereka gampang ngerti maksudnya. Hah! Keinget waktu belajar EYD di SMP…

It’s quiet hard for me to explain how pretty this island is… speechless!

Tujuan pertama Pulau Pagang. Rencananya sebagian besar waktu kita akan dihabiskan disini: foto-foto, snorkeling, berenang, makan siang, foto-foto lagi.


Pulau Pagang, Sumatera Barat

Gue berasa kayak di pulau pribadi dengan satu guide pribadi. Hahaha… pantainya sepi bener, dan gak ada warung, gak ada yang jualan kayak di Ancol, masih asri banget.

Tempat ini sangat rekomen untuk kalian yang suka ketenangan pada saat berlibur ke pulau atau pantai. Ini bener-bener tersembunyi, mungkin salah satu faktornya karena lokasinya gak gitu strategis. But with a little workhard and niat, finally I can experience the another hidden paradise in Indonesia. Dan gue pengennya tempat seperti ini terus terjaga kelestariannya, kayak gini aja terus.


Sepi kaaaannn :D

Selama berada di Pulau Pagang (destinasi pulau pertama) gue ditemani oleh salah satu rekannya Bang Adi, panggilannya Si Boy. Dia yang meminta kita memanggil dia dengan sebutan Si Boy. Katanya karena dia yang paling muda diantara semua abang-abangnya, maksudnya abang-abang yang bawa one day trip, tentunya lebih muda dari gue.

Si Boy ini anaknya baik, polos, dan berani banget. Dia suka pamer aksi kalo lagi di laut, kerenlah. Tapi sayang gue gak punya fotonya karena waktu itu hp gue lagi gak terjangkau. Si Boy membawa gue ke sebuah spot yang keren untuk foto. Tau aja nih bocah kalo gue lagi mau narsis, hehehe…

Gue sempat berpikir kalo hari-hari gue di Padang bakal gue habiskan untuk diem aja dan makan. Dengan kata lain gak punya temen ngobrol, dan gak bisa ngajak siapa-siapa ngobrol karena gue gak bisa bahasa Padang. Tapi sejak hari pertama gue disini, gue bisa punya kenalan orang lokal yang baik-baik dan informatif tentunya.

Dan yang paling penting mereka mau ngobrol sama gue meski gak pake bahasa Padang.


Dermaga Pulau Pagang. Bawahnya cetek!
...
Direkomen sama Si Boy buat foto disitu, tebing batu. Kalo pada kesini jangan lupa pake sendal (gue gak pake sendal jadi gue ngasih tau aja)

Hari ini pun gue ketemu temen baru, yah temen pada saat trip pulau aja sih. Setidaknya gue gak diem aja, dan bisa bercanda juga sama Si Boy, Melita dan Opan (adeknya Melita). Melita dan Opan ini juga lebih muda dari gue, dan perawakannya AGJ banget. Bahkan Si Boy sampe gak paham Melita ngomong apa saking gaulnya -_- gue sih paham tapi gue diem aja.

Sebelum ke Pulau Pasumpahan, kita mampir ke Pulau Pamutusan. Dinamakan demikian karena ini adalah dua pulau yang dibelah oleh gundukan pasir putih. Jadi dua pulau nih, terus ditengahnya ada gundunkan pasir putihnya, jadi kayak nih pasir mutusin dua pulau itu. Paham gak? Kalo ngga lihat di Google aja penampakannya.

Kalo dilihat dari atas pasirnya kelihatan, tapi kalo dari seberang Pulau Pagang (letak kedua pulau ini seberang-seberangan) pulaunya kayak putus gitu. Ya gitu deh pokoknya. Istimewanya Pulau Pamutusan cocok banget dijadiin lokasi kemping. Karena pada saat gue kesini banyak banget muda-mudi pada kemping, gue gak tau berapa biaya sewa lahan untuk diriin tendanya, atau mungkin gratis.

Yang pasti gue dan rombongan bayar 15k per orang untuk naik ke bukit batu dan foto disana. Kalo pada mau kemari, jangan lupa pake sendal. Jangan tanya ada apa, gak ada apa-apa yang bahaya cuman sakit aja kalo jalan gak pake sandal ke atas bukit batu ini.

Selain untuk kemping, bisa juga untuk foto-foto karena dari atas bukit batu ini, kalian bisa berfoto dengan background lautan luas dan pulau-pulau diatasnya. Keren banget deh! Muka gue yang lepek aja ketutupan sama pesona pemandangannya. Huehuehue~


Speechless. Keren!

Gak lama dan gak banyak yang bisa kita lakukan di Pulau Pamutusan, lalu kita langsung cuss ke pulau yang menjadi alasan gue disini hari ini: Pulau Pasumpahan. Meski badan udah capek, dan gue udah kena sunburn, tapi gue tetap semangat untuk melihat secara langsung kerennya pulau ini. Sekitar 15 menit naik perahu, kita sampe. Bener aja dong, warna air lautnya bergradasi gitu.

Wih semua review yang gue baca di blog orang itu bener! Mereka gak mengada-ada. Sayangnya, disini kita gak bisa snorkeling karena ikannya dikit dan waktu itu airnya agak keruh. Mungkin karena rame kali ya, tapi gue dan ketiga new friends berenang aja sambil sekali-kali nengok ke dasar air apakah ada kemungkinan untuk menyelam.

Air di pantai ini agak aneh, tetap asin, dan gue keminum beberapa kali (iyuh). Di satu spot airnya bisa berasa dingin dan anget, meski udah kita obrak-abrik airnya tetep aja gak tampak menyatu. Geser beberapa senti, airnya berasa dingin, kita manjangin kaki ke depan airnya berasa anget. Air galau.


Pulau Pasumpahan

Disini juga gak selama pas di Pulau Pagang, karena emang gak banyak yang bisa dilakuin sih tapi gue dan yang lainnya tetap berusaha mengeksploitasi tempat ini dengan─ ngapain aja kek yang penting gak diem doang.

Sept 4th

Emang sengaja gue jadikan “hari istirahat” setelah seharian ngebolang di pantai. Rencananya juga pada 4 September gue mau ke Pantai Air Manis (Pantai Malin Kundang), makan jagung bakar di Jembatan Siti Nurbaya, dan beli oleh-oleh buat orang rumah dan orang kantor. Rencananya begitu.

Aslinya gue cuman bisa tiduran di homestay tak berdaya sambil nonton sinetron dan Skype sama pacar sambil pamer sunburn yang mulai terasa perih. Huhu… Gue keluar homestay cuman untuk beli makan, dan tadinya sekalian beli krim lidah buaya untuk meringankan beban kulit akibat sunburn, tapi apoteknya tutup.

Damn! Selesai makan balik lagi ke homestay karena mendadak gue jadi kayak kalong yang gak kuat kena sinar matahari lama-lama. Di homestay gue coba tidur siang, tapi gak bisa karena badan gue sakit semua rasanya. Setelah dipikir-pikir sih worth it ajalah, gue seneng kok. Hehehe…

Gue berasa hari itu jadi lama banget, dan gue udah kangen sama Si Botak, sekarang pacar udah botak kayak ABRI. Pokoknya gue cuman pengen hari itu cepet berakhir dan gue udah mau pulang.

Sept 5th

My flight was at 2.45PM

dan gue make sure gak ketinggalan pesawat lagi kayak waktu di Bali. Kadang masih parno sih, jadi gue cek out jam 11 kurang, dan naik angkot ke pangkalan Damri di Jalan Imam Bonjol, nunggu setengah jam lebih bersama beberapa orang yang mau ke BIM juga.

Jam 11.30an Damrinya dateng, dan keneknya masih orang  yang sama dan masih inget gue juga. Hahaha. Ketemu lagi sama abang ini. Gue nyampe di BIM jam 1.00PM lah kalo gak salah, dan langsung cuss untuk print boarding pass, karena gue udah kelaparan berharap bisa makan pizza dan fussili sebelum take off

namun ZONK! ZONK! ZONK! Gak ada tempat makanan kayak di CGK! Adanya kios yang jual makanan khas Indonesia yang tampak sepi. Jadi untuk menunda lapar gue beli susu stroberi dan chitato seharga 30k untuk dua item itu :’) gue udah tau pasti harganya bakalan gak wajar tapi daripada tangan gue gemeteran karena laper mending beli ajalah.

Pesawat pun gak delay dan gue gak ketinggalan pesawat dong… yeay! Nyampe CGK jam 4.30PM, ambil bagasi dan bertemu Si Botak yang udah standby di CGK 3 jam lebih awal dari kedatangan gue :*

Pengalaman trip sendiri: awalnya gue gak pernah nyangka gue bakal mengambil langkah nekat ini untuk pesen tiket dan booking homestay untuk satu orang. Pernah kepikiran tapi hati niatnya gak bakal ngelakuin karena gue takut. Ya takut bosennya itu sih. Buat gue gak gampang langsung akrab sama orang baru, dan itu menjadi kekurangan gue banget. Tapi trip kali ini membuktikan bahwa gue bisa kok trip sendirian, meski gue lebih suka ada temennya.

“Don’t be afraid of traveling alone, because you’ll discover many things and meet new people. The most important thing is you learn to get to know yourself more”

Kedengarannya emang basi. Tapi gue udah ngalamin dan semua gak mudah. Dan disinilah gue tau potensi diri gue, apa yang bisa gue lakuin sendiri dan berusaha untuk survive, lebih menghargai hidup, dan menyadari bahwa gak ada tempat yang lebih asoygeboy daripada di rumah…

Salam damai* sampe bertemu di trip selanjutnya!